Kebijakan Mutu FMIPA UNILA- "FMIPA Unila sebagai penyelenggara layanan administrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki kemitraan untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan atau pemakai jasa dengan menjamin mutu layanan sesuai persyaratan pelanggan melalui upaya penjaminan mutu secara optimal, terus-menerus, dan berkesinambungan."
Wednesday , 17 September 2014
You are here: Home mipa Inspirasi Akademika mipa Dari Tukang Cuci Mobil Hingga Menjadi Dekan
Dari Tukang Cuci Mobil Hingga Menjadi Dekan

Dari Tukang Cuci Mobil Hingga Menjadi Dekan

Manusia boleh saja kecil, tapi usaha untuk menjadi besar jangan sampai lekang karena terpuruk kebesaran orang lain. Kebesaran dan kesuksesan orang lain justru akan menjadi suatu motivasi memperbaiki diri. Menjadi sosok yang lebih baik tapi juga tidak menghilangkan integritas diri. Seperti analogi, “lebih baik jadi ikan teri tapi jadi kepalanya daripada ikan tongkol tapi jadi buntutnya.” Prinsip inilah yang menemani Suharso bertahan selama ini.

        Siapa sangka sosok orang nomor satu di FMIPA ini adalah sosok yang penuh semangat. Berasal dari keluarga sederhana tak lantas membuatnya patah semangat dalam menuntut ilmu. Tidak bisa dibayangkan bahwa sosok berwibawa di Fakultas MIPA ini sejak kecil telah merasakan kehidupan keras. Suharso kecil pernah menjadi kondektur angkutan umum dan tukang cuci mobil. Aktivitas itu ia lakukan setelah pulang sekolah, saat itu Suharso masih menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD). Bahkan menjadi kuli bangunan pun pernah ia lakoni semasa SMA.

        Saat menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA), ia belajar menjadi seorang pemimpin dengan menjadi ketua PMR dan Pramuka di sekolahnya. Suharso juga pernah memimpin rombongan lebih dari 200 orang dari berbagai sekolah di Lampung untuk mengikuti jambore PMR di Sukabumi, Jawa Barat. Suharso sadar ia berasal dari keluarga yang kurang mampu yang tidak bisa sepenuhnya membiayai pendidikannya sampai tinggi. Sejak itu Suharso mulai menyusun visi dan misi hidupnya dimasa depan.

        Menginjak ke Perguruan tinggi, Suharso masih dengan kesederhanaannya. Ketika kuliah, ia tidak pernah malu dan minder dengan motor vespa yang selalu ia bawa dari hasil uang beasiswa. Suharso justru merasa percaya diri, karena kuliah dan kehidupan kesehariannya ia jalani seadanya saja. Suharso termasuk mahasiswa angkatan pertama di Kimia MIPA dan sekaligus saat itu ia menjadi ketua angkatannya. Sosok sederhana ini terkenal dengan prestasi akademik yang bagus hingga akhirnya diangkat menjadi dosen pada tahun 1995 setelah menamatkan pendidikan Sarjananya pada tahun 1993.

        Namun menurut Suharso, ia merasa akademik yang bagus belumlah cukup. Ia yakin semuanya akan lebih matang jika akademik yang bagus dibarengi dengan mengikuti organisasi. Ia bertekad tidak ingin bermain-main dalam organisasi yang ia ikuti selama itu tidak mengganggu perkuliahannya.

        Karena keaktifannya dalam organisasi, Suharso mulai dikenal dikalangan mahasiswa hingga ia terpilih menjadi Ketua Senat Fakultas MIPA yang kini disebut dengan Gubernur BEM. Setahun berlalu, Suharso berkiprah mengukir sejarah dan memberikan kontribusi untuk FMIPA. Suharso mengaku organisasi tidak mengganggu perkuliahannya, terbukti dengan IP-nya yang selalu diatas 3. Dengan keinginan menambah pengalaman, ditahun berikutnya ia terpilih menjadi ketua senat universitas yang kini disebut BEM. Ditahun itu, Suharso juga menjadi pelopor sekaligus pemimpin di Lembaga Dakwah Kampus yang kini dikenal dengan UKMU-Birohmah yang pada akhirnya lembaga ini banyak melahirkan para aktivis.

        Suharso adalah sosok yang penuh semangat, memiliki jiwa kepemimpinan meski dengan penampilan yang sederhana. Selama ini, ia tidak pernah berbangga diri akan jabatannya menjadi Dekan FMIPA. Ia yakin setiap amanah harus dijalankan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab karena semua itu nantinya akan dipertanggungjawabkan. Ia berpandangan memimpin fakultas adalah memimpin banyak orang bukan menjadi pemimpin sekelompok orang atau golongan tertentu sehingga ia harus memperhatikan semua aspirasi.  Menjadi dekan untuk bekerja memajukan fakultas dan semua jurusan bukan untuk berbangga. Untuk itu pada tahun pertama kepemimpinannya, ia membenahi peralatan laboratorium yang telah usang dan memperbaiki sarana dan prasarana di FMIPA.

        Menurutnya, menuntut ilmu ialah sepanjang hayat. Tak ada alasan baginya untuk berhenti menuntut ilmu. Sosok sederhana yang begitu menggemari buku orang-orang sukses dan sejarah Nabi ini bertekad melanjutkan program Sarjana Strata 2. Keinginannya menjadi dosen  sampai jenjang S3 begitu kuat hingga ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke S2. Sebelum menempuh pendidikan S2, Suharso menikah dengan salah seorang yang juga aktivis di universitasnya, Universitas Lampung.

        Ketika menempuh S2 di Australia, ia juga bertekat “jangan pulang sebelum mendapatkan S3”. Ini beban berat bagi Suharso karena harus jauh dari orang tua dan keluarga demi menuntut ilmu. Ia pun pergi didampingi istri tercintanya pada tahun kedua perkuliahannya. Untuk menambah kebutuhan sehari-hari di negeri yang terkenal dengan kangurunya itu, Ia juga bekerja menjadi cleaner, tukang bersih-bersih dan pengantar koran.

        Ia lakoni ini disamping untuk menambah pendapatan, ia bisa bergaul dengan banyak kalangan di negeri Kangguru dan hitung-hitung olahraga yang dibayar sambil berjalan mengantar koran menikmati udara pagi yang segar melepas kepenatan dengan urusan perkuliahan. Ini beliau sebut dengan istilah Student Plus.

        Kembali Suharso merasakan sulitnya hidup di tanah orang apalagi anak kedua dan ketiganya lahir di sana. Suharso sadar bahwa dalam hidup pasti banyak kesulitan, tapi ia tetap tegar dan ikhlas menerima itu semua karena ia yakin ini ujian kesabaran untuknya. karena disetiap cobaan pasti ada hikmahnya. Keseharian keluarga Suharso di Australia tidak selalu berjalan mulus. Sempat istri tercintanya sakit dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit saat anak ketiganya berumur 4 bulan, jadi tugas mengurus 3 orang anak mau tidak mau dilimpahkan kepadanya.

        Tanpa menyelesaikan S2-nya, Suharso langsung melanjutkan S3 atas saran profesornya sehingga mendapat gelar Ph.D., Suharso kecil telah tumbuh menjadi sosok besar karena kesederhanaannya. Kunci sukses yang ia pegang adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini.

        Tahun 2003, Suharso dan keluarga pulang ke tanah air. Ia kembali mengabdi sebagai dosen kimia di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung. Ia juga pernah menjabat sebagai sekretaris Jurusan Kimia. Karena kepemimpinannya, Suharso dipercaya untuk menjadi dekan sementara pasca dekan FMIPA dipindah menjadi dekan FK. Setelah akhir periode, pemilihan dekan FMIPA kembali diadakan. Dan ia pun terpilih menjadi orang nomor 1 di FMIPA untuk periode 2012-2016. Tak salah, ia juga menjadi professor termuda diumur 39 tahun dan menjadi dekan termuda diantara dekan lainnya di Fakultas lain. Dan ia masih produktif dengan penelitian-penelitian yang didanai oleh DP2M DIKTI meskipun ditengah-tengah kesibukan sebagai Dekan.

        Kesuksesannya selama ini selalu ia imbangi dengan hidup sehat. Karena dengan sehat, banyak orang lebih bisa melakukan banyak hal. Ia dan keluarga menerapkan pola hidup sehat. Mulai dari tidak tidur terlalu malam, karena menurutnya tidur yang baik adalah sekitar pukul 20.00 atau 21.00 dan bangun jam 2 atau 3 pagi. Di pagi hari sebelum berangkat menunaikan amanah, ia selalu menyempatkan diri untuk berolahraga rutin selama 40 menit. Selain membaca buku, olahraga tenis juga termasuk hobinya.

       Tak hanya membaca dan tenis. Suharso juga masih menyempatkan diri menulis jurnal dari hasil penelitiannya. Jadi terkadang setelah selesai bekerja ia sempatkan diruang kerjanya sampai maghrib untuk menulis jurnal. Dari beberapa jurnal Internasional yang ia tulis, Kementrian Pendidikan Nasional memberikan insentif sejak tahun 2009 dari jurnal-jurnal beliau yang diterbitkan oleh penerbit ternama ELVESIER. Secara profesional, baginya hanya ada urusan pekerjaan di tempat kerja dan tidak pernah ada urusan pekerjaan yang ia lakukan di rumah. Di rumah adalah urusan keluarga dan bermasyarakat.

        Pengalamannya berorganisasi membuat Suharso menjadi sosok yang lebih pandai mengatur waktu. Menurutnya, tak ada pekerjaan yang tak dapat dilakukan, cukup dengan komitmen yang kuat maka semua hal yang kita lakukan pasti berjalan mulus. Jangan menunda-nunda pekerjaan, harus cepat, cerdas, cermat, cekatan, teliti dan kerjakan dengan seluruh potensi yang dimiliki.

        Setiap orang pasti pernah memiliki masalah, begitu pula Suharso. Namun ia menyebutnya bukan sebagai masalah tetapi tantangan yang harus ia lalui. Kunci ia menghadapi tantangan yang ada adalah lihat seberapa besar tantangan tersebut, hadapi dan selesaikan dengan cepat tetapi tidak tergesa-gesa. Selain itu, tidak berlarut-larut dalam menyelesaikannya.

        Suharso adalah pribadi yang suka belajar dari orang lain dan selalu mengambil sisi-sisi positif dari orang lain. Ketika beliau masih mahasiswa S1, Prof. Dr. Tati Suhartati dan Prof. Dr. John Hendri yang merupakan dosennya adalah idolanya. Ketika beliau menjadi dosen muda, sosok Prof. Dr. Muhajir Utomo, Dr. Mustofa Usman, Prof Dr. Sutopo Gani Nugroho, Prof. Dr. Abdul Kadir Salam, Prof. Dr. Ida Farida Rivai, dan Dr. Warsono adalah sumber inspirasi dan motivasi untuk menjadi pribadi yang kuat dalam akademik dan riset. Alasannya, mereka adalah orang-orang muda yang telah mampu mencapai gelar akademik tertinggi S3 pada zamannya. Sejak ia pulang tahun 2003 dari Australia, beliau banyak belajar dari Prof. Dr. Muhajir Utomo dan Prof. Dr. Sugeng P. Harianto banyak hal tentang kepemimpinan di perguruan tinggi. Pandangan-pandangan beliau berdua banyak yang tersimpan dalam memorinya tentang memajukan Unila dan leadership.

        Inilah bentuk pengabdian Suharso untuk universitasnya. Kini ia mengabdi untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk seluruh civitas di fakultasnya. Kemampuan terbaiknya akan ia ulurkan demi kemajuan Fakultas MIPA. Bravo pak Dekan, kami berupaya mengikuti langkahmu.

One comment

  1. Menginspirasi. :)

    Semangat terus, Pak untuk lebih baiknya FMIPA kedepan.

    Terimakasih Pak Suharso.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top